Cari Tentang Pencinta Alam

Pecinta alam

Pecinta alam Cimahi

Pecinta alam Cimahi

..::pandu udara::..

PENCINTA ALAM
::::..CIMAHI..::::
..::pandu udara::..

TEKNIK ROCK CLIMBING

| Kamis, 31 Maret 2011

TEKNIK ROCK CLIMBING

1. Pendahuluan
Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Cilmbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja. Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing itu sendiri.


2. Sejarah Rock Climbing
Pada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung dimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat kesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dan tebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan dan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejenis kambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor mata pencaharian.
Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilah cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.
Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.
Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia. Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilah patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
3.Teknik Rock Climbing
Dikenal dua jenis teknik pemanjatan rock climbing, yaitu artificial climbing dan free climbing.
a. Artificial Climbing
Artificial climbing adalah teknik peanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan selain untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh), juga di gunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi petualangan yang pemanjatannya menggunakan jalur yang panjang dan proses pemanjatannya memakan waktu yang lama (berhari-hari).

b.Free Climbing
Free climbing adalah teknik pemanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan hanya untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh) tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi prestasi dan olah raga. Free climbing umumnya menggunakan jalur-jalur yang pendek dan singkat.

4. Taktik Pemanjatan
Dalam rock climbing ada dua taktik pemanjatan,yaitu Himalayan Tactic dan Alpin Tactic
a.Himalayan Tactick
Himalayan Tactic adalah taktik pemanjatan tebing dengan cara menghubungkan antara base camp dengan tim pemanjat melalui tali. Perlengkapan dan logistik bisa dikirim secara estafet dari base camp ke tim pemanjat.
b.Alpin Tactic
Alpin Tactic adalah taktik pemanjatan tebing tanpa berhubungan lagi dengan base camp. Semua kebutuhan tim (peralatan dan logistik) tim pemanjat dibawa terus oleh tim pemanjat.
Seorang pemanjat tebing dituntut untuk berani, teliti dan berkemampuan menganalisa tinggi, yaitu berpikir dan bertindak cepat dan tepat pada saat kritis. Pemanjat tebing wajib memiliki mental baja dan ketahanan fisik yang besar. Selain itu juga harus memiliki kelenturan tubuh, dan penguasaan teknik yang benar. Karena hal-hal itu merupakan dasar dari panjat tebing.
5. Pengaman ( Ancor)
Rock climbing merupakan suatu kegiatan yang beresiko tinggi (high risk),oleh kerenaitu dibutuhkan suatu pengmanan untuk mengurangi atau meminimalisir resiko yang akan timbul. Pada dasarnya pengaman (ancor) dalam rock climbing dikelompokan menjadi 3 kelompok,yaitu :
1. Pengaman tubuh
Pengaman tubuh, yaitu pengaman yang langsung menempel pada tubuh pemanjat, diantaranya :
a. Tali Kernmantel
Kegiatan rock climbing membutuhkan tali yang kuat, ringan, lentur, tidak mudah basah, cepat kering dan mudah dibawa-bawa. Biasanya para penggiat rock climbing menggunakan tali kernmantel dynamic berdiameter 9 atau 11 mm karena memenuhi persyaratan di atas.
b. Harness
Adalah alat pengaman yang mengikat tubuh kita (sabuk pengaman). Ada tiga macam harness yang biasa digunakan, yaitu : Seat Harness (harness yang bertumpu pada pinggul),Chest Harness (harness yang bertumpu pada dada) dan Full Body Harness (harness yang bertumpu pada dada, punggung, pinggul dan paha).

Gambar seat harness

Gambar Chest harness
c. Helm (Hard Hat)
Seorang penggiat rock climbing dianjurkan menggunakan helm dalam melakukan pemanjatan. Hal ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dari atas atau jika pemanjat terjatuh.

Gambar Helm
d. Simpul (knot)
Pada rock climbing terdapat banyak simpul yang sering digunakan,namun simpul yang langsung berhubungn dengan tubuh,yang di rekomendasikan adalah simpul delapan ganda.

e. Carrabiner
Carrabiner disebut juga krab atau Snaplink adalah cincin kait yang terbuat dari alumunium alloy yang bentuknya beragam dan mempunyai gate yang berfungsi sebagai peniti dan mempunyai kekuatan yang bervariasi tergantung pada beberapa hal antara lain bahan, bentuk, penampang lintang dan pintunya. Ada dua macam carrabiner yaitu Carrabiner Screw Gate (bepengunci) dan Carrabiner Non Gate / Snap Gate (tidak berpengunci).Adapun standart kekuatan carrabiner yang direkomendasikan oleh UIAA (badan panjat tebing dunia) adalah 2000 kg.

2. Pengaman Alam (Natural Ancor)
Pengaman alam yaitu pengaman yang sudah ada pada tebing secara alami dan dapat dimanfaatkan menjadi pengaman. Diantaranya :
a. Lubang Tembus
Lubang tembus biasanya berupa lubang atau rongga pada tebing. Adapun kriteria lubang tembus yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah

· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinys tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar lubang tembus
b. Batu Tanduk
Batu tanduk biasanya berupa tonjolan yang menyerupai tanduk pada tebing. Adapun kriteria batu tanduk yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah:
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinya tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar batu tanduk
c. Pohon dan Akar
Dalam hal ini pohon atau tumbuhan yang menempel / tumbuh pada tebing. Adapun kriteria pohon dan akar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Pohon atau tumbuhannya masih hidup
· Solid atau dalam kesatuan tebing
3. Pengaman Buatan (Artificial Ancor)
Pengaman buatan adalah pengaman yang diciptakan oleh manusia guna menunjang keamanan dalam kegiatan rock climbing. Pengaman buatan ini terbagi atas 4 kelompok, yaitu :
a. Piton (Pasak atau Paku Tebing)
Piton adalah sepotong logam yang dibentuk agar berfungsi sebagi pasak celah tebing batu. Piton kebanyakan dibuat dari baja kromalin. Secara umum piton terbagi menjadi dua macam, yaitu piton bilah atau pipih (blade) dan piton siku (angle). Dari dua macam piton ini berkembang menjadi bermacam-macam bentuk piton yang disesuaikan dengan bentuk celah di tebing batu.

Gambar Piton Angle Gambar Piton Blade
b. Chock (Pengaman Sisip)
Chock adalah alat penahan beban dari arah tertentu yang diselipkan ke dalam celah batu. Chock mempunyai dua bentuk, yaitu : asimetris / tidak simetris,contohya segi enam (hexentric) dan simetris,conyohnya baji (stopper).

Gambar Chock ( Stopper )

Gambar Chock (Hexentric )
c. Pengaman Sisip Pegas (Friend)
Friend adalah sebuah alat penjepit yang manggunakan pegas, yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi chock. Ukuran friend bermacam-macam menyesuaikan dengan berbagai ukuran celah batu.

Gambar friend
d. Baud (Bolt) / Pengaman Tetap
Bolt ini ditanamkan kedalam tebing dan diberi pengait (hanger) dengan menggunakan alat bantu bor tangan (hand drill). Pengaman sifatnya permanen.

Gambar handrill dan hanger
6. Simpul-simpul yang sering digunakan dalam pemanjatan
Adapun simpul-simpul yang biasa digunakan di dalam proses pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Simpul Delapan Ganda :
Digunakan untuk simpul ke tubuh dan penambatan.

2. Simpul Belay :
Digunakan untuk mem-belay dan rappeling.

3. Simpul Jerat :
Digunakan untuk menjerat pengaman.

4. Simpul Pita :
Digunakan untuk menyambung tali yang pipih (webbing).

5. Simpul Pangkal :
Digunakan di dalam penambatan.

6. Simpul Fisherman :
Digunakan untuk menyambung dua tali yang berbeda.


7. Simpul Kambing/Bowline :
Digunakan untuk mengikat barang yang akan di angkat ke atas.

7. Alat Pendukung
Ascender dan Descender
Ascender adalah alat penjepit tali yang berfungsi untuk menahan beban. Prinsip kerjanya adalah dapat menjepit tali kjika terbebani dan aka mengendur jika tidak terbebani.
Descender adalah alat yang berfungsi untuk membantu memberi gesekan pada waktu pemanjat menuruni tebing dengan tali. Dengan begitu, kecepatan turun dapat dikontrol dengan mudah. Biasanya digunakan untuk rappeling atau belaying.
Sling
Sling berguna untuk membuat pengaman maupun memperpanjang runner. Sling dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Rope Sling yang terbuat dari tali dan Tape Sling yang terbuat dari pita nilon (webbing). Diameter rope sling berkisar antara 7 sampai 9 mm. Sedangkan tape sling biasanya berukuran 1 inci. Kedua macam sling ini mempunyai kegunaan masing-masing. Pada pinggiran batu yang tajam, webbing dapat tersayat, sehingga rope sling lebih dianjurkan. Sedangkan pada celah sempit, tape sling lebih berguna daripada rope sling.

Gambar sling
Sepatu Panjat
Sepatu memanjat tebing mempunyai ciri-ciri khusus. Ringan dan bagian tapaknya terbuat dari karet yang cukup keras dan kaku yang berfungsi sebagai tumpuan gesekan yang maksimal terhadap pijakan permukaan tebing yang tipis.

Gambar Sepatu Panjat
Hammer
Palu yang digunakan dalam pemanjatan tebing batu sedikit berbeda dengan palu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Kepala palu harus labih berat dari ekor palu yang berbentuk runcing, yang dapat digunakan untuk mencongkel atau mengungkit alat-alat penahan beban (pengaman buatan).

Gambar Hammer
Webbing
Webbing adalah pita yang terbuat dari bahan nilon yang mempunyai fungsi yang hampir sama dengan tali. Alat ini biasa digunakan untuk sling, tangga gantung dan sebagainya.
Etrier atau Stirrup
Etrier atau Stirrup (tangga gantung) adalah alat yang biasa digunakan dalam pemanjatan artificial. Etrier biasanya terbuat dari webbing atau dari logam aluminium. Dengan alat ini, proses pemanjatan akan emnjadi lebih mudah. Karena alat ini dapat dijadikan pijakan untuk menambah ketinggian dimana sudah tidak ada lagi cacat tebing yang dapat dipijak.

Gambar Etrier atau stirrup
Chalk Bag
Chalk bag adalah kantong kapur yang berisi magnesium carbonat, ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan.

Gambar chalk bag
Prusik
Prusik adalah tali karnmantel yang berukuran antara 4 – 6 mm. Biasanya berfungsi sebagai pengganti ascender dan sling.

Gambar prusik
Choker
Choker adalah alat bantu untuk membuka atau melepaskan pengaman buatan. Choker terbuat dari bahan plat ± 3 mm dengan panjang ± 30 cm. Salah satu ujungnya berbentuk seperti ekor kucing yang berfungsi untuk mencongkel atau mengungkit alat alat penahan beben (pengaman buatan).
8. Klasifikasi Pengaman
Pada prekteknya terdapat juga klasifikasi pengaman menurut sifat dan fungsinya, yaitu :
a) pengaman emas :
berarti pengaman bersifat baik sekali. Sangat baik digunakan sebagai penambatan.
b) pengaman perak :
berarti pengaman bersifat baik. Digunakan untuk pengaman selama pemanjatan.
c) pengaman perunggu :
Sifatnya kurang baik. Biasanya digunakan untuk menambah ketinggian.
d) pengaman pengunci
Sifatnya baik sekali (emas). Digunakan sebagai pengaman urutan pertama yang befungsi sebagai tahanan terakhir pada saat jatuh.
9. Penambatan
Penambatan adalah proses tahapan pemanjatan untuk melanjutkan pitch berikutnya (1 etape pemanjatan) atau berganti leader. Syarat penambatan :
a) Memiliki 2 atau lebih pengaman yang bernilai emas.
b) Menggunakan carrabiner screw untuk menambat.
c) Simpul yang dipakai adalah simpul jerat/tambat (untuk pengaman ke tubuh) dan di back up oleh simpul delapan ganda.

10. Pengenalan Prosedur Pemanjatan
Dalam suatu kegiatan alam bebas, menyusun suatu perencanaan merupakan suatu hal yang penting. Bidang rock climbing merupakan kegiatan yang sangat memerlukan tata cara dan prosedur yang tepat agar proses pemanjatan menjadi lancar dan aman.
Prosedur pemanjatan yakni :
Orientasi Jalur
Orientasi jalur merupakan permulaan yang penting dari sebuah pemanjatan. Pemilihan jalur dapat dilakukan melalui data, literatur, informasi dari orang lain atau pengamatan langsung.
Di dalam orientasi jalur, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a) Memperkirakan tinggi tebing, menentukan jenis batuan, menentukan berapa pitch yang akan dilakukan.
b) Menentukan titik awal pemanjatan.
c) Menentukan jenis alat-alat yang akan digunakan.
d) Memperkirakan penempatan anchor (tambatan) untuk istirahat, pergantian leader untuk hanging belay juga hanging bivoack.
2. Pembagian Personil / Manajemen Tim
Pembagian personil dilakukan berdasarkan :
a) Jumlah personil keseluruhan.
b) Kemempuan personil.
c) Jalur yang akan digunakan.
d) Sistem pemanjatan.
e) Ketersediaan alat.
3. Persiapan Peralatan
Peralatan yang akan dipakai disusun dengan rapi dan sistematis. Ini membantu pemanjat dalam menggunakan alat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi alat yaitu :
a) Jenis batuan.
b) Cacat batuan.
c) Kemampuan leader.
d) Pengaman yang tersedia.
4. Persiapan Pemanjatan
Setelah semua peralatan telah siap, maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu adalah komunikasi, apalagi antara leader dan belayer. Tetapi perlu diingat untuk menjaga energi, jangan sampai energi habis karena kita berteriak-teriak. Jadi sebaiknya menggunakan alat komunikasi, seperti handy talky.
5. Memulai Pemanjatan
Leader melakukan pemanjatan hingga pitch 1 yang telah direncanakan sebelumnya. Lalu memasang fixed rope (tali tambat) dari tali baru yang dibawanya yang dapat digunakan sebagai transport orang kedua.
6. Cleaning
Setelah leader menyelesaikan pitch 1, orang kedua bersiap untuk menyusul ke pitch 1 dengan menggunakan fixed rope. Sambil memanjat/jumaring orang kedua (cleaner) ini membersihkan runner-runner yang dipasang oleh leader, agar alat-alatnya dapat digunakan untuk pemanjatan selanjutnya (ke pitch 2).
Tugas cleaner :
a) Membersihkan jalur dan menyapu runner.
b) Mencatat pengaman yang akan digunakan selanjutnya.
c) Sebagai leader untuk pitch selanjutnya.
d) Membawa tali untuk pemanjatan.
7. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya.
Setelah cleaner sampai pada pitch 1, lalu melakukan persiapan untuk melakukan pemanjatan ke pitch 2. Yang menjadi leader adalah orang yang menjadi cleaner pada saat pemanjatan ke pitch 1. Pada saat pemanjatan ke pitch 2, orang ketiga dan selanjutnya yang masih ada di bawah, melakukan pemanjatan/jumaring. Begitu seterusnya hingga akhir pemanjatan.
8. Turun Tebing
Setelah semua pemanjat telah mencapai target, maka yang harus dilakukan adalah rappeling (turun tebing). Untuk melakukan rappeling perlu membuat anchor untuk penambat tali. Rappeling dapat dilakukan dengan menggunakan tali tunggal atau tali ganda (double). Personil yang turun pertama kali harus membawa tali dan memasangnya pada pitch berikutnya. Persoinil terakhir sebaiknya memakai double rope rappeling dan tali dikalungkan pada anchor, sehingga dapat ditarik sesudah sampai di pitch bawah. Begitu selanjutnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rappeling :
a) Ujung tali harus disimpul.
b) Waspada terhadap rontokan batuan.
9. Pendataan Alat Setelah Pemanjatan
Di dasar tebing, setelah semua pemanjat turun, dilakukan pendataan alat-alat yang telah dipakai. Alat-alat apa saja yang sengaja ditinggal di atas dan pengecekan alat.
10. Pembuatan Topo
Topo adalah gambar atau sket jalur yang berhasil di panjat. Sket ini dilengkapi dengan data-data sebagai berikut :
a) Nama jalur
b) Lokasi
c) Jenis batuan tebing
d) Tinggi tebing
e) Sistem pemanjatan
f) Teknik pemanjatan
g) Waktu pemanjatan
h) Tingkat kesulitan (grade)
i) Data peralatan yang digunakan
j) Daftar pemanjat

TENTANG PENCINTA ALAM

|

TENTANG PENCINTA ALAM

Seiring waktu berjalan tak terasa rasa mencintai alam tercetak oleh budaya instans. Kita bisa melihat televisi dengan aneka program yang berkaitan dengan dunia petualang tanpa harus menjadi pelaku di dalamnya. Tentu dampaknya terjadi pada organisasi pencinta alam yang era tahun 60-70-an cukup beken.

Namun, dewasa ini makna dari konotasi pencinta alam hanya sloganisasi bagi mereka yang senang berpetualang. Mereka dengan bangganya mendaki Cartenz Pyramid sementara hutan di Kalimantan habis terkikis oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Tidak hanya itu, Mount Everest pun siap di daki dengan menelan biaya yang cukup mahal sementara budaya dan kearifan lokal hilang satu persatu. Hutan pun gundul, air sungai pun tercemar, polusi udara semakin hari kian melonjak yang akibatnya penggunaan CFC / Freon terus bertambah berdampak pada menipisnya ozon.

Apa kita harus kembali refleksi memaknai arti kata pencinta alam atau kita hanya diam saja sambil menikmati presenter petualang yang cantik-cantik sambil minum kopi di televise-televisi swasta. Kode etik Pencinta Alam yang kerap kali dalam upacara dipuncak gunung, atau upacara sacral lainnya di bacakan bagaikan sebuah fosil yang usang. Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sibuk mencari funding untuk menyelamatkan hutan dan satwa-satwa liar meski harus menjual data kepada Negara pendonor. Tragis benar negeri ini berjibun pencinta alam baik dari organisasi kampus maupun freeland ternyata tak berani berunjuk gigi untuk membangkitkan semangat mencintai alam dengan mendata hutan, gunung dan memberikan kontribusi dengan ilmu kepencintaalaman kepada masyarakat yang terasing di bawah gunung, di dekat hutan.

Masih ingat memori di kala pendidikan dasar kepencitaalaman kita siap di caci maki ala semi militer. Mengorbankan waktu seminggu untuk menumbuhkan rasa percaya diri terdidik oleh alam. Selain itu, kode etik pencinta alam kerap di bacakan seusai upacara pelantikan anggota-anggota baru. Namun, kedepannya masih membayang apakah mereka bakal aktif atau tidak sama sekali. Sementara program pengurus sibuk membuat plan dengan aksi adventure yang menantang andrenalin. Apa hanya dengan itu saja.

Ironis sekali, yang seharusnya kita lebih aktif membela mereka – Masyarakat Lokal sekitar gunung, hutan ketika pohon gaharu di curi. Malah teronani oleh kepuasaan jiwa temporal dengan memanjat tebing layaknya atlit profesional. Sebenarnya ilmu kepencitaalaman yang kita miliki adalah untuk menyelamatkan alam, budaya kearifan local. Bukan untuk mencetak prestasi ketinggian atau bangga mengibarkan sang merah putih di puncak gunung atau tebing tertinggi. Percuma mengibarkan bendera sang merah putih sementara orang utan terus mencari perlindungan dari kita sebagai pencinta alam. Tidak heran hampir seluruh alam Indonesia di kuasai orang asing mulai dari konservasi orang hutan hingga harimau di Sumatra. Kemana mereka yang mengaku sang pencinta alam?

Bencana alam adalah bukti ketidakpedulian bangsa ini akan keberadaan alam di sekitarnya. Datangnya bencana alam tidak semata-mata karena takdir Tuhan, melainkan akibat dari rasa apriori bangsa ini terhadap lingkungan sekitar. Tentu kita masih ingat bencana tsunami yang terjadi di Aceh (26 Desember 2004) dan pesisir pengandaran – Kebumen selatan Jawa (17 Juli 2006), dalam sekejap tsunami menelan ribuan nyawa. Gempa Yogyakarta dan sekitarnya 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter lebih dari 5.000 korban jiwa melayang. Belum lagi bencana banjir Jakarta 2007.

Hal tersebut merupakan cambuk bagi aktifis pencinta alam. Sangat wajar sekali jaman sudah tidak memihak kepada organisator pencinta alam. Banyak dari mereka sedikit menutup organisasinya close corpus atau di biarkan mengambang begitu saja tanpa ada program yang jelas. Mari megutip teori Darwin dengan Survival Of Fittest yakni bukan yang eksklusiflah yang terkuat namun yang dinamis untuk mempertahankan hidup. Para aktifis pencinta alam pun meloncat kepada permainan Outbound dengan begitulah aktifitas mereka mengekspresikan rasa petualangannya dengan instant.

Bagi organisasi pencinta yang masih eksis dan tetap pada penyelamatan lingkungan hidup sebagai visi dan utama perjuangan. Teruslah berjuang. Tidak ada kata terlambat untuk kembali bangkit memperjuangkan alam dan satwa-satwa liar. Sedangkan aktifis pencinta alam yang senang adventure alangkah baiknya menyisipkan data yang berharga untuk kepentingan alam dan budaya sekitarnya meskipun sedikit. Toh itu juga merupakan perjuangan.

Memang tidak mudah membalikan telapak tangan. Namun dengan keyakinan yang kuat bahwa pencinta alam di abad ini adalah pejuang seperti Chico Nendes di hutan Amazon tidak bisa kita pungkiri. Tentunya, kita sebagai anak bangsa tidak ingin alam kita yang kaya akan panorama, gas alam, gunung, laut, satwa langkanya, goa, sungai yang beriam, hutan, budaya yang beragam dikuasai oleh orang-orang asing yang mempunyai tujuan dengan alat sloganisasinya konservasionisme.

SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

|

SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

Ini bukanlah sebuah narasi deskripsi, tapi disini penulis ingin memberikan sebuah sajian yang obyektif yang barangkali bisa mengingatkan kita kembali sebuah tanggung jawab yang mau gak mau harus kita emban atau mungkin bahkan sebuah pertanyaan besar menyangkut posisi kita sebagai PENCINTA ALAM.
SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

Selama berjalan 3 tahun menjadi pengurus dalam organisasi kepecinta alaman paradigma dan pola berpikir saya dan mungkin sebagian teman-teman saya mengatakan:
- eksistensi kepecinta alaman dapat terjawab dengan kegiatan – kegiatan besar seperti Ekspedisi keluar pulau dengan materi dan lokasi yang baru.
- Bagaimana hutang dan target organisasi akan terjawab ketika pemateri olah raga alam bebas terpenuhi,dan adik-adik kita telah mengaplikasikan materi olah raga alam bebas.
- Seorang pencinta alam akan berbicara kegiatan itu dapat dibanggakan ketika dia telah mencapai puncak tertinggi, sungai dengan jeram terderas, gua terdalam, tebing tertinggi, gua terdalam.

Maka kembali sebuah pertnayaan dilincurkan : SUDAH CUKUPKAH KITA DIKATAKAN SEBAGAI PENCINTA ALAM KETIKA SEMUA HAL DIATAS TERAPLIKASIKAN????

Dalam ilmu hukum saya pernah diajarkan tentang apa yang dinamakan penfsiran hokum,salah satunya adalah penfsiran gramatikal yaitu penfsiran dengan melihat kata, atau frasa yang ada dalam sebuah undang-undang atau hokum. Sekarang bila kita coba untuk menafsirkan secara gramatikal tentang pencinta alam, apakah itu terjawab dengan point-point yang tersebut diatas?? Apakah halk itu sudah terjawab dengan memanjat dan membuat lobang-lobang ditebing?? Apakah sudah terjawab dengan berarung jeram dengan melewati kampong-kampung kumuh yang airnya sudah tercemar limbah??

Sekali lagi dalam tulisan ini saya tidak akan membuat deskripsi tentang apapun,saya hanya mentabulasi pertanyaan yang menggangu dalam otak saya, yang mempertanyakan keeksistensian saya sebagai pencinta alam.
SUDAH CUKUP PENCINTA ALAM KAH SAYA?? KAMU?? Dan KITA???

Pencinta Alam: Benarkah Mencintai Alam?

|

Pencinta Alam: Benarkah Mencintai Alam?

Pencinta Alam, seringkali diidentifikasikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Menjelajah gunung, menyusuri gua, mengarungi keajaiban dasar samudera, merambah belantara nan sunyi dan sederet kegiatan ‘alam’ lainnya.
Tentang pencinta sendiri di negeri kita, seringkali kegiatan yang dilakukan hanya sebatas sloganisasi belaka, sebatas mereka menikmati alam untuk diri sendiri, sebatas mencari kepuasan untuk kepentingan pribadi. Pencinta Alam ( baca: mereka yang menamakan diri sebagai Pencinta Alam) sering kali melakukan banyak aktivitas yang justru mengganggu keseimbangan alam. Menjelajah gunung dan membuat jejak-jejak disana, mencoret batu-batu di puncak, membuang sampah non organik ke sembarang tempat, membuat api unggun yang seringkali lupa dimatikan, memetik Edelweiss hingga beratus-ratus tangkai….
Saat masih sekolah dulu, pernah juga terlibat dalam kegiatan yang menamakan diri sebagai “Pencinta Alam”. Jujur, kala itu orientasi saya hanya mencari background yang bagus untuk foto-foto saya. Rasanya bangga sekali bila berhasil “menaklukan” puncak-puncak tertinggi. Memang, rasanya damai sekali di tengah kesunyian alam, menikmati keindahan kota nun jauh disana yang tertutup sebagian kabut, menyaksikan keajaiban sunrise dan sunset kala cuaca bersahabat. Dengan apapun, itu tak akan pernah bisa tergantikan.
Hanya saja, yang sering mengganggu saya, seringkali di perjalanan menuju puncak banyak sampah berserakan. Tentunya, ini adalah sampah yang dibawa oleh para pendaki karena sebagian besar makanan yang dibawa khas sekali. Sampai di puncak? Wah… lebih ngeri lagi. Bebatuan yang semestinya terlihat asri dan indah penuh coretan. Untuk apa? Sialnya coretan-coretan itu seringkali membawa nama sekolah, nama kampus yang notabene lebih ‘terpelajar’ dari pada para pendaki liar.
Saya pernah merasa malu sekali ketika dalam sebuah pendakian kami secara kebetulan berpapasan dengan pendaki dari mancanegara. Dengan sebuah kantong besar, mereka menuruni gunung sambil memunguti aneka macam sampah yang terserak. Wah, rasanya kami tak punya muka lagi untuk menatap mereka. Tentu, bukan karena sampah yang mereka pungut adalah sampah kami, melainkan karena kepedulian mereka akan alam. Sementara, para pendaki lokal yang (seharusnya) memiliki kesadaran lebih, justru mengabaikannya.
Sebuah organisasi Pencinta Alam (yang biasanya ngetren di kalangan mahasiswa) seharusnya bukan sekadar sebuah tempat bernaung bagi mereka yang senang bertualang saja atau menghabiskan anggaran dana di kampus. Ironis membayangkan mereka melakukan pendakian besar-besaran yang menelan biaya tinggi sampai ke luar negeri, sementara, di negeri sendiri, negeri yang (seharusnya) elok dan kaya akan hutan tropis perlahan mulai kehilangan identitasnya. Pencurian kayu, pembabatan hutan secara liar luput dari penyelamatan sang ‘pencinta alam’ Pencinta Alam.
Dalam konteks bahasa adalah seseorang yang sangat mencintai alam. Mencintai berarti melakukan banyak hal untuk sesuatu/seseorang yang dicintai. Mencoba membahagiakan sesuatu/seseorang yang kita cintai dengan tulus. Melakukan banyak hal agar sesuatu/seseorang yang dicintai merasa nyaman. Mencintai itu tanpa sederet syarat apapun, Mencintai itu sesuatu yang tulus, tanpa pamrih. Mencintai Alam, sama halya dengan melakukan banyak hal untuk alam, tanpa syarat-syarat khusus, tanpa dibarengi rasa keegoisan untuk memiliki alam secara individual, tanpa mengabaikan apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh alam. Semua harus dilakukan tanpa pamrih, pamrih untuk dimunculkan di media massa, tanpa pamrih di puji banyak pihak, tanpa pamrih untuk mendapat dukungan dana berlebih yang pada akhirnya digunakan entah kemana. Mencintai alam, mencintai wujud ciptan-Nya, mengasihi setiap apa yang ada di dalamnya. Memulai dari hal kecil di sekitar kita. Meski kecil, andai setiap orang melakukannya pasti hasilnya menjadi lebih berarti.

Pecinta Alam Ditengah Isu Lingkungan

|

Pecinta Alam Ditengah Isu Lingkungan

Terkesan oleh satu rumor yang mempertanyakan dimana pecinta alam saat ini. Pertanyaan ini sekaligus menjawab teka-teki bahwa ternyata masih ada orang yang tahu tentang pecinta alam.
Berbicara pecinta alam bagi kita tidak lebih seperti berbicara masalah lingkungan yang semakin absurd tidak tahu ujungnya. Tercatat hampir sekitar 250 perhimpunan pecinta alam di Yogyakarta saja, belum di Indonesia. Pada umumnya terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa,pelajar sampai organisasi PA (pecinta alam) umum pun hadir menjamur dewasa ini.di mahasiswa terkenal dengan sebutan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di pelajar terkenal dengan nama Sispala (siswa pecinta alam).
Secara umum orang tahu pecinta alam, mereka adalah orang yang suka atau punya hobi naik gunung dengan rambut gondrong, pakaian, aksesoris yang khas menandakan seorang pecinta alam. Sayangnya opini yang menempel pada diri PA ini lebih menjurus pada konotasi yang negative, ini lebih karena sering terjadinya praktek-praktek vandalisme di gunung, tempat wanawisata bahkan dipuncak gunung sekalipun ada coretan-coretan iseng. Terlepas dari apakah ini perbuatan seorang pecinta alam atau hanya kebetulan orang yang iseng saja yang naik gunung membawa spidol atau cat semprot.
Karena sulit membedakan antara pecinta alam asli yang peduli alam dan lingkungannya atau hanya pecinta alam gadungan yang hanya menempelkan nama kerennya saja, anggapan pun semakin luas terhadap perilaku sosial yang tidak terpuji seperti membuat kegaduhan di tengah malam dengan teriak-teriak bahkan lebih kaget lagi adalah sering ditemukannya berbagai macam sampah sampai kondom sekalipun di Taman Wisata Kaliurang, ini siapa lagi kalau bukan orang yang sering main ke gunung.
Terlepas dari konotasi negative tadi, pecinta alam mempunyai satu posisi yang sangat penting perannya dalam membina generasi muda untuk kepedulian terhadap alam ini seperti bisa kita lihat kegiatan-kegiatan penghijauan di lereng Merapi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam di Yogyakarta atau aksi bersih kali oleh beberapa pecinta alam di Bandung beberapa bulan. Ini menandakan adanya satu persepsi yang masih belum diketahui oleh kebanyakan orang tentang kegiatan pecinta alam yang tidak saja berkutat di acara mendaki gunung.
Namun dalam tataran politik lingkungan pecinta alam cenderung apolitis dalam tataran gerakan lingkungan secara keseluruhan pecinta alam belum memperlihatkan sebuah sinergi gerakan yang dinamis, sepertinya belum ada satu pemikiran taktis gerakan pecinta alam dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Lebih jauh lagi pada peran mahasiswa pecinta alam, masih sedikit aksi-aksi advokasi dari para mahasiswa pecinta alam untuk masalah lingkungan. Ini terkesan apatis untuk melakukan advokasi bagi korban pencemaran lingkungan atau penolakan untuk rencana pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan. Ambilah salah satu contohnya di Yogyakarta, ditengah maraknya isu pembangungan kawasan konservasi air dan hutan oleh Pemkot, Jalan Lintas Selatan yang melewati kawasan hutan yang masih alami, Taman Nasional Gunung Merapi, Safir Square , Plaza Book UGM, Pelabuhan ika di Pantai Glagah yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Ketentuan kebijakan lingkungan mengenai Tata Ruang, AMDAL, UU No 23 taqhun 1997, Transparansi dan Akuntabilitas public. Mahasiwa pecinta alam atau kelompok pecinta alam lainnya terkesan acuh tak acuh tidak mau peduli mengkritisinya.
Dikutip dari satu catatan Gerlorfd Nelson senator Amerika tahun 1970 yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech of Illionis tahun 1990, ia mengatakan “ jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan-kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pecinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan, jika anda ingin mempunyai Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi yang akan datang, kita yakin anda dapat melakukannya“. Catatan ini yang menjadi dasar untuk bergerak dalam wacana lingkungan melawan kapitalisme global.
Kini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk membangun sebuah sinergi gerakan dari para pecinta alam baik itu mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam ataupun kelompok – kelompok pecinta alam lainnya untuk masa depan lingkungan hidup karena masalah lingkungan adalah permasalahan bersama sehingga korelasi antara banyaknya pecinta alam dengan kelestarian alam ini dalam tanda positif bukan sebaliknya.
“Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap”

Management Perjalanan & Peralatan

| Selasa, 29 Maret 2011

Management Perjalanan & Peralatan

Persiapan
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.
Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:
•    Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan
•    Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama
Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
•    Bagaimana kondisi lokasi
•    Bagaimana cuaca disana
•    Bagaimana perizinannya
•    Bagaimana mendapatkan air
•    Bagaimana pengaturan tugas panitia
•    Bagaimana acara akan berlangsung
•    Bagaimana materi yang disampaikan
•    dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1.    Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2.    Pengurusan perizinan
3.    Pembagian tugas panitia
4.    Persiapan kebutuhan acara
5.    Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6.    dan lain sebagainya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.
Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :
1.    Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.
2.    Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.
Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
•    Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
•    Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
•    Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
•    Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.
Memilih dan Menempatkan Barang
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.
Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.
Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.
Menyimpan Pakaian ;
Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.
Menyimpan Makanan ;
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.
Menyimpan Korek Api Batangan ;
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.
Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.
Perlengkapan Pribadi Alam Bebas
Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.
Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.
1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.
2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.
3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.
4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.
5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].
6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.
7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.
8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal.
9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless].
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.
10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits [lihat pada bagian lain]

Cara Membuat Kompor Kaleng

|

Cara Membuat Kompor Kaleng

Desain kompor kaleng inimirip dengan kompor trangia yang merupakan bagian dari perlengkapan mendaki
gunung atau survey lapangan. Inimerupakan versi generik nya alias versimurah-meriah. Lumayan buat masak
mie kalau gak ada minyak tanah atau bikin kopi saat asyik tamasya di desa atau naik-naik ke puncak gunung.
Bahan& Alat :
2 Buah kalengminuman ringan bekas ukuran + 330 ml,
1 Buah kalengminuman ringan bekas ukuran 240 ml. Untuk “inner wall”
Paku pin
SpidolOHP (anti air)
Cutter
Penggaris
Gunting
Cara membuat:
1. Yang pertama adalahmembuat burner,caranya : lubangi kaleng
dengan Paku pin dengan jarak kurang lebih sama dibagain bawah kaleng. Untuk mempermudah bikin tanda
dengan dengan spidol sebanyak 24/32 titik. Kemudian dengan pisau cutter yang tajamujungnya, kita bor
untuk membikin lubang awal. Setelah itu baru ditusuk dengan paku pin. Catatan: pada kalengminuman ukuran
330 ml ada dua jenis diameter untuk bagian cembung yangmelengkung di bagian bawah. Pilih kaleng dari
merk yang sama saja untuk amannya.
2. Potong bagian yang cembung pada tengah kaleng dengan pisau
cutter. Proses ini agak lama karena bagian bawah kaleng yang cembung ini cukup tebal. Buat goresan secara
merata hingga akhirnya hasil yang didapatkan bisa rapi.
3. Setelah jadi potong kaleng yang telah kita lubangi tadi kira-kira setinggi 27 mm. Proses ini bisa dibantu
dengan kertas hvs yang kita potong setinggi 27 mm, kemudian dilingkarkan pada kaleng lalu tandai kaleng
dengan spidol. Atau juga bisa denganmemutar kaleng pada spidol yang sudah kita ganjal pada sebuah buku
setinggi 27 mm.
4. Untuk bagian bawah penampung bahan bakar (FuelCap), potong
kaleng bagian bawah kira-kira setinggi 30 mm/ 3 cm. Kemudian tekuk-tekuk ujungnya dengan ibu jari agar
bagian burner bisa masuk denganmudah.
5. Untuk membuat inner wall, cukup potong kalengminuman bekas
ukuran 240 ml kira-kira setinggi 39 mm. Setelah itu sesuaikan dengan lebar bagian cembung kaleng kemudian
lipat.
6. Pasang inner wall pada penampung bahan bakar dan tutup dengan
bagian burner tadi.
7. Kompor siap diuji coba,
masukkan spiritus pada tengah kompor dan bakar dengan korek api. Bahan Bakar yang bisa digunakan
adalah Alkohol 70%, alkohol 95 % ataumethylated blue (spiritus). Jika Kita pakai spiritus yang kurang bagus
mutunya, alat masak yang digunakan seperti panci bisa hitamwarnanya.
selamat mencoba…

..::::'Pencinta Alam':::....

..::::'Pencinta Alam':::....
 

Copyright © 2010 PENCINTA ALAM