Cari Tentang Pencinta Alam

Pecinta alam

Pecinta alam Cimahi

Pecinta alam Cimahi

..::pandu udara::..

PENCINTA ALAM
::::..CIMAHI..::::
..::pandu udara::..

TENTANG PENCINTA ALAM

| Kamis, 31 Maret 2011

TENTANG PENCINTA ALAM

Seiring waktu berjalan tak terasa rasa mencintai alam tercetak oleh budaya instans. Kita bisa melihat televisi dengan aneka program yang berkaitan dengan dunia petualang tanpa harus menjadi pelaku di dalamnya. Tentu dampaknya terjadi pada organisasi pencinta alam yang era tahun 60-70-an cukup beken.

Namun, dewasa ini makna dari konotasi pencinta alam hanya sloganisasi bagi mereka yang senang berpetualang. Mereka dengan bangganya mendaki Cartenz Pyramid sementara hutan di Kalimantan habis terkikis oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Tidak hanya itu, Mount Everest pun siap di daki dengan menelan biaya yang cukup mahal sementara budaya dan kearifan lokal hilang satu persatu. Hutan pun gundul, air sungai pun tercemar, polusi udara semakin hari kian melonjak yang akibatnya penggunaan CFC / Freon terus bertambah berdampak pada menipisnya ozon.

Apa kita harus kembali refleksi memaknai arti kata pencinta alam atau kita hanya diam saja sambil menikmati presenter petualang yang cantik-cantik sambil minum kopi di televise-televisi swasta. Kode etik Pencinta Alam yang kerap kali dalam upacara dipuncak gunung, atau upacara sacral lainnya di bacakan bagaikan sebuah fosil yang usang. Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sibuk mencari funding untuk menyelamatkan hutan dan satwa-satwa liar meski harus menjual data kepada Negara pendonor. Tragis benar negeri ini berjibun pencinta alam baik dari organisasi kampus maupun freeland ternyata tak berani berunjuk gigi untuk membangkitkan semangat mencintai alam dengan mendata hutan, gunung dan memberikan kontribusi dengan ilmu kepencintaalaman kepada masyarakat yang terasing di bawah gunung, di dekat hutan.

Masih ingat memori di kala pendidikan dasar kepencitaalaman kita siap di caci maki ala semi militer. Mengorbankan waktu seminggu untuk menumbuhkan rasa percaya diri terdidik oleh alam. Selain itu, kode etik pencinta alam kerap di bacakan seusai upacara pelantikan anggota-anggota baru. Namun, kedepannya masih membayang apakah mereka bakal aktif atau tidak sama sekali. Sementara program pengurus sibuk membuat plan dengan aksi adventure yang menantang andrenalin. Apa hanya dengan itu saja.

Ironis sekali, yang seharusnya kita lebih aktif membela mereka – Masyarakat Lokal sekitar gunung, hutan ketika pohon gaharu di curi. Malah teronani oleh kepuasaan jiwa temporal dengan memanjat tebing layaknya atlit profesional. Sebenarnya ilmu kepencitaalaman yang kita miliki adalah untuk menyelamatkan alam, budaya kearifan local. Bukan untuk mencetak prestasi ketinggian atau bangga mengibarkan sang merah putih di puncak gunung atau tebing tertinggi. Percuma mengibarkan bendera sang merah putih sementara orang utan terus mencari perlindungan dari kita sebagai pencinta alam. Tidak heran hampir seluruh alam Indonesia di kuasai orang asing mulai dari konservasi orang hutan hingga harimau di Sumatra. Kemana mereka yang mengaku sang pencinta alam?

Bencana alam adalah bukti ketidakpedulian bangsa ini akan keberadaan alam di sekitarnya. Datangnya bencana alam tidak semata-mata karena takdir Tuhan, melainkan akibat dari rasa apriori bangsa ini terhadap lingkungan sekitar. Tentu kita masih ingat bencana tsunami yang terjadi di Aceh (26 Desember 2004) dan pesisir pengandaran – Kebumen selatan Jawa (17 Juli 2006), dalam sekejap tsunami menelan ribuan nyawa. Gempa Yogyakarta dan sekitarnya 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter lebih dari 5.000 korban jiwa melayang. Belum lagi bencana banjir Jakarta 2007.

Hal tersebut merupakan cambuk bagi aktifis pencinta alam. Sangat wajar sekali jaman sudah tidak memihak kepada organisator pencinta alam. Banyak dari mereka sedikit menutup organisasinya close corpus atau di biarkan mengambang begitu saja tanpa ada program yang jelas. Mari megutip teori Darwin dengan Survival Of Fittest yakni bukan yang eksklusiflah yang terkuat namun yang dinamis untuk mempertahankan hidup. Para aktifis pencinta alam pun meloncat kepada permainan Outbound dengan begitulah aktifitas mereka mengekspresikan rasa petualangannya dengan instant.

Bagi organisasi pencinta yang masih eksis dan tetap pada penyelamatan lingkungan hidup sebagai visi dan utama perjuangan. Teruslah berjuang. Tidak ada kata terlambat untuk kembali bangkit memperjuangkan alam dan satwa-satwa liar. Sedangkan aktifis pencinta alam yang senang adventure alangkah baiknya menyisipkan data yang berharga untuk kepentingan alam dan budaya sekitarnya meskipun sedikit. Toh itu juga merupakan perjuangan.

Memang tidak mudah membalikan telapak tangan. Namun dengan keyakinan yang kuat bahwa pencinta alam di abad ini adalah pejuang seperti Chico Nendes di hutan Amazon tidak bisa kita pungkiri. Tentunya, kita sebagai anak bangsa tidak ingin alam kita yang kaya akan panorama, gas alam, gunung, laut, satwa langkanya, goa, sungai yang beriam, hutan, budaya yang beragam dikuasai oleh orang-orang asing yang mempunyai tujuan dengan alat sloganisasinya konservasionisme.

SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

|

SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

Ini bukanlah sebuah narasi deskripsi, tapi disini penulis ingin memberikan sebuah sajian yang obyektif yang barangkali bisa mengingatkan kita kembali sebuah tanggung jawab yang mau gak mau harus kita emban atau mungkin bahkan sebuah pertanyaan besar menyangkut posisi kita sebagai PENCINTA ALAM.
SIAPAKAH PENCINTA ALAM???

Selama berjalan 3 tahun menjadi pengurus dalam organisasi kepecinta alaman paradigma dan pola berpikir saya dan mungkin sebagian teman-teman saya mengatakan:
- eksistensi kepecinta alaman dapat terjawab dengan kegiatan – kegiatan besar seperti Ekspedisi keluar pulau dengan materi dan lokasi yang baru.
- Bagaimana hutang dan target organisasi akan terjawab ketika pemateri olah raga alam bebas terpenuhi,dan adik-adik kita telah mengaplikasikan materi olah raga alam bebas.
- Seorang pencinta alam akan berbicara kegiatan itu dapat dibanggakan ketika dia telah mencapai puncak tertinggi, sungai dengan jeram terderas, gua terdalam, tebing tertinggi, gua terdalam.

Maka kembali sebuah pertnayaan dilincurkan : SUDAH CUKUPKAH KITA DIKATAKAN SEBAGAI PENCINTA ALAM KETIKA SEMUA HAL DIATAS TERAPLIKASIKAN????

Dalam ilmu hukum saya pernah diajarkan tentang apa yang dinamakan penfsiran hokum,salah satunya adalah penfsiran gramatikal yaitu penfsiran dengan melihat kata, atau frasa yang ada dalam sebuah undang-undang atau hokum. Sekarang bila kita coba untuk menafsirkan secara gramatikal tentang pencinta alam, apakah itu terjawab dengan point-point yang tersebut diatas?? Apakah halk itu sudah terjawab dengan memanjat dan membuat lobang-lobang ditebing?? Apakah sudah terjawab dengan berarung jeram dengan melewati kampong-kampung kumuh yang airnya sudah tercemar limbah??

Sekali lagi dalam tulisan ini saya tidak akan membuat deskripsi tentang apapun,saya hanya mentabulasi pertanyaan yang menggangu dalam otak saya, yang mempertanyakan keeksistensian saya sebagai pencinta alam.
SUDAH CUKUP PENCINTA ALAM KAH SAYA?? KAMU?? Dan KITA???

Pencinta Alam: Benarkah Mencintai Alam?

|

Pencinta Alam: Benarkah Mencintai Alam?

Pencinta Alam, seringkali diidentifikasikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Menjelajah gunung, menyusuri gua, mengarungi keajaiban dasar samudera, merambah belantara nan sunyi dan sederet kegiatan ‘alam’ lainnya.
Tentang pencinta sendiri di negeri kita, seringkali kegiatan yang dilakukan hanya sebatas sloganisasi belaka, sebatas mereka menikmati alam untuk diri sendiri, sebatas mencari kepuasan untuk kepentingan pribadi. Pencinta Alam ( baca: mereka yang menamakan diri sebagai Pencinta Alam) sering kali melakukan banyak aktivitas yang justru mengganggu keseimbangan alam. Menjelajah gunung dan membuat jejak-jejak disana, mencoret batu-batu di puncak, membuang sampah non organik ke sembarang tempat, membuat api unggun yang seringkali lupa dimatikan, memetik Edelweiss hingga beratus-ratus tangkai….
Saat masih sekolah dulu, pernah juga terlibat dalam kegiatan yang menamakan diri sebagai “Pencinta Alam”. Jujur, kala itu orientasi saya hanya mencari background yang bagus untuk foto-foto saya. Rasanya bangga sekali bila berhasil “menaklukan” puncak-puncak tertinggi. Memang, rasanya damai sekali di tengah kesunyian alam, menikmati keindahan kota nun jauh disana yang tertutup sebagian kabut, menyaksikan keajaiban sunrise dan sunset kala cuaca bersahabat. Dengan apapun, itu tak akan pernah bisa tergantikan.
Hanya saja, yang sering mengganggu saya, seringkali di perjalanan menuju puncak banyak sampah berserakan. Tentunya, ini adalah sampah yang dibawa oleh para pendaki karena sebagian besar makanan yang dibawa khas sekali. Sampai di puncak? Wah… lebih ngeri lagi. Bebatuan yang semestinya terlihat asri dan indah penuh coretan. Untuk apa? Sialnya coretan-coretan itu seringkali membawa nama sekolah, nama kampus yang notabene lebih ‘terpelajar’ dari pada para pendaki liar.
Saya pernah merasa malu sekali ketika dalam sebuah pendakian kami secara kebetulan berpapasan dengan pendaki dari mancanegara. Dengan sebuah kantong besar, mereka menuruni gunung sambil memunguti aneka macam sampah yang terserak. Wah, rasanya kami tak punya muka lagi untuk menatap mereka. Tentu, bukan karena sampah yang mereka pungut adalah sampah kami, melainkan karena kepedulian mereka akan alam. Sementara, para pendaki lokal yang (seharusnya) memiliki kesadaran lebih, justru mengabaikannya.
Sebuah organisasi Pencinta Alam (yang biasanya ngetren di kalangan mahasiswa) seharusnya bukan sekadar sebuah tempat bernaung bagi mereka yang senang bertualang saja atau menghabiskan anggaran dana di kampus. Ironis membayangkan mereka melakukan pendakian besar-besaran yang menelan biaya tinggi sampai ke luar negeri, sementara, di negeri sendiri, negeri yang (seharusnya) elok dan kaya akan hutan tropis perlahan mulai kehilangan identitasnya. Pencurian kayu, pembabatan hutan secara liar luput dari penyelamatan sang ‘pencinta alam’ Pencinta Alam.
Dalam konteks bahasa adalah seseorang yang sangat mencintai alam. Mencintai berarti melakukan banyak hal untuk sesuatu/seseorang yang dicintai. Mencoba membahagiakan sesuatu/seseorang yang kita cintai dengan tulus. Melakukan banyak hal agar sesuatu/seseorang yang dicintai merasa nyaman. Mencintai itu tanpa sederet syarat apapun, Mencintai itu sesuatu yang tulus, tanpa pamrih. Mencintai Alam, sama halya dengan melakukan banyak hal untuk alam, tanpa syarat-syarat khusus, tanpa dibarengi rasa keegoisan untuk memiliki alam secara individual, tanpa mengabaikan apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh alam. Semua harus dilakukan tanpa pamrih, pamrih untuk dimunculkan di media massa, tanpa pamrih di puji banyak pihak, tanpa pamrih untuk mendapat dukungan dana berlebih yang pada akhirnya digunakan entah kemana. Mencintai alam, mencintai wujud ciptan-Nya, mengasihi setiap apa yang ada di dalamnya. Memulai dari hal kecil di sekitar kita. Meski kecil, andai setiap orang melakukannya pasti hasilnya menjadi lebih berarti.

Pecinta Alam Ditengah Isu Lingkungan

|

Pecinta Alam Ditengah Isu Lingkungan

Terkesan oleh satu rumor yang mempertanyakan dimana pecinta alam saat ini. Pertanyaan ini sekaligus menjawab teka-teki bahwa ternyata masih ada orang yang tahu tentang pecinta alam.
Berbicara pecinta alam bagi kita tidak lebih seperti berbicara masalah lingkungan yang semakin absurd tidak tahu ujungnya. Tercatat hampir sekitar 250 perhimpunan pecinta alam di Yogyakarta saja, belum di Indonesia. Pada umumnya terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa,pelajar sampai organisasi PA (pecinta alam) umum pun hadir menjamur dewasa ini.di mahasiswa terkenal dengan sebutan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di pelajar terkenal dengan nama Sispala (siswa pecinta alam).
Secara umum orang tahu pecinta alam, mereka adalah orang yang suka atau punya hobi naik gunung dengan rambut gondrong, pakaian, aksesoris yang khas menandakan seorang pecinta alam. Sayangnya opini yang menempel pada diri PA ini lebih menjurus pada konotasi yang negative, ini lebih karena sering terjadinya praktek-praktek vandalisme di gunung, tempat wanawisata bahkan dipuncak gunung sekalipun ada coretan-coretan iseng. Terlepas dari apakah ini perbuatan seorang pecinta alam atau hanya kebetulan orang yang iseng saja yang naik gunung membawa spidol atau cat semprot.
Karena sulit membedakan antara pecinta alam asli yang peduli alam dan lingkungannya atau hanya pecinta alam gadungan yang hanya menempelkan nama kerennya saja, anggapan pun semakin luas terhadap perilaku sosial yang tidak terpuji seperti membuat kegaduhan di tengah malam dengan teriak-teriak bahkan lebih kaget lagi adalah sering ditemukannya berbagai macam sampah sampai kondom sekalipun di Taman Wisata Kaliurang, ini siapa lagi kalau bukan orang yang sering main ke gunung.
Terlepas dari konotasi negative tadi, pecinta alam mempunyai satu posisi yang sangat penting perannya dalam membina generasi muda untuk kepedulian terhadap alam ini seperti bisa kita lihat kegiatan-kegiatan penghijauan di lereng Merapi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam di Yogyakarta atau aksi bersih kali oleh beberapa pecinta alam di Bandung beberapa bulan. Ini menandakan adanya satu persepsi yang masih belum diketahui oleh kebanyakan orang tentang kegiatan pecinta alam yang tidak saja berkutat di acara mendaki gunung.
Namun dalam tataran politik lingkungan pecinta alam cenderung apolitis dalam tataran gerakan lingkungan secara keseluruhan pecinta alam belum memperlihatkan sebuah sinergi gerakan yang dinamis, sepertinya belum ada satu pemikiran taktis gerakan pecinta alam dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Lebih jauh lagi pada peran mahasiswa pecinta alam, masih sedikit aksi-aksi advokasi dari para mahasiswa pecinta alam untuk masalah lingkungan. Ini terkesan apatis untuk melakukan advokasi bagi korban pencemaran lingkungan atau penolakan untuk rencana pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan. Ambilah salah satu contohnya di Yogyakarta, ditengah maraknya isu pembangungan kawasan konservasi air dan hutan oleh Pemkot, Jalan Lintas Selatan yang melewati kawasan hutan yang masih alami, Taman Nasional Gunung Merapi, Safir Square , Plaza Book UGM, Pelabuhan ika di Pantai Glagah yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Ketentuan kebijakan lingkungan mengenai Tata Ruang, AMDAL, UU No 23 taqhun 1997, Transparansi dan Akuntabilitas public. Mahasiwa pecinta alam atau kelompok pecinta alam lainnya terkesan acuh tak acuh tidak mau peduli mengkritisinya.
Dikutip dari satu catatan Gerlorfd Nelson senator Amerika tahun 1970 yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech of Illionis tahun 1990, ia mengatakan “ jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan-kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pecinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan, jika anda ingin mempunyai Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi yang akan datang, kita yakin anda dapat melakukannya“. Catatan ini yang menjadi dasar untuk bergerak dalam wacana lingkungan melawan kapitalisme global.
Kini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk membangun sebuah sinergi gerakan dari para pecinta alam baik itu mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam ataupun kelompok – kelompok pecinta alam lainnya untuk masa depan lingkungan hidup karena masalah lingkungan adalah permasalahan bersama sehingga korelasi antara banyaknya pecinta alam dengan kelestarian alam ini dalam tanda positif bukan sebaliknya.
“Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap”

Management Perjalanan & Peralatan

| Selasa, 29 Maret 2011

Management Perjalanan & Peralatan

Persiapan
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.
Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:
•    Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan
•    Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama
Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
•    Bagaimana kondisi lokasi
•    Bagaimana cuaca disana
•    Bagaimana perizinannya
•    Bagaimana mendapatkan air
•    Bagaimana pengaturan tugas panitia
•    Bagaimana acara akan berlangsung
•    Bagaimana materi yang disampaikan
•    dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1.    Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2.    Pengurusan perizinan
3.    Pembagian tugas panitia
4.    Persiapan kebutuhan acara
5.    Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6.    dan lain sebagainya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.
Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :
1.    Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.
2.    Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.
Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
•    Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
•    Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
•    Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
•    Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.
Memilih dan Menempatkan Barang
Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.
Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.
Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.
Menyimpan Pakaian ;
Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.
Menyimpan Makanan ;
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.
Menyimpan Korek Api Batangan ;
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.
Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.
Perlengkapan Pribadi Alam Bebas
Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.
Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.
1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.
2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.
3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.
4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.
5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].
6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.
7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.
8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal.
9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless].
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.
10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits [lihat pada bagian lain]

Cara Membuat Kompor Kaleng

|

Cara Membuat Kompor Kaleng

Desain kompor kaleng inimirip dengan kompor trangia yang merupakan bagian dari perlengkapan mendaki
gunung atau survey lapangan. Inimerupakan versi generik nya alias versimurah-meriah. Lumayan buat masak
mie kalau gak ada minyak tanah atau bikin kopi saat asyik tamasya di desa atau naik-naik ke puncak gunung.
Bahan& Alat :
2 Buah kalengminuman ringan bekas ukuran + 330 ml,
1 Buah kalengminuman ringan bekas ukuran 240 ml. Untuk “inner wall”
Paku pin
SpidolOHP (anti air)
Cutter
Penggaris
Gunting
Cara membuat:
1. Yang pertama adalahmembuat burner,caranya : lubangi kaleng
dengan Paku pin dengan jarak kurang lebih sama dibagain bawah kaleng. Untuk mempermudah bikin tanda
dengan dengan spidol sebanyak 24/32 titik. Kemudian dengan pisau cutter yang tajamujungnya, kita bor
untuk membikin lubang awal. Setelah itu baru ditusuk dengan paku pin. Catatan: pada kalengminuman ukuran
330 ml ada dua jenis diameter untuk bagian cembung yangmelengkung di bagian bawah. Pilih kaleng dari
merk yang sama saja untuk amannya.
2. Potong bagian yang cembung pada tengah kaleng dengan pisau
cutter. Proses ini agak lama karena bagian bawah kaleng yang cembung ini cukup tebal. Buat goresan secara
merata hingga akhirnya hasil yang didapatkan bisa rapi.
3. Setelah jadi potong kaleng yang telah kita lubangi tadi kira-kira setinggi 27 mm. Proses ini bisa dibantu
dengan kertas hvs yang kita potong setinggi 27 mm, kemudian dilingkarkan pada kaleng lalu tandai kaleng
dengan spidol. Atau juga bisa denganmemutar kaleng pada spidol yang sudah kita ganjal pada sebuah buku
setinggi 27 mm.
4. Untuk bagian bawah penampung bahan bakar (FuelCap), potong
kaleng bagian bawah kira-kira setinggi 30 mm/ 3 cm. Kemudian tekuk-tekuk ujungnya dengan ibu jari agar
bagian burner bisa masuk denganmudah.
5. Untuk membuat inner wall, cukup potong kalengminuman bekas
ukuran 240 ml kira-kira setinggi 39 mm. Setelah itu sesuaikan dengan lebar bagian cembung kaleng kemudian
lipat.
6. Pasang inner wall pada penampung bahan bakar dan tutup dengan
bagian burner tadi.
7. Kompor siap diuji coba,
masukkan spiritus pada tengah kompor dan bakar dengan korek api. Bahan Bakar yang bisa digunakan
adalah Alkohol 70%, alkohol 95 % ataumethylated blue (spiritus). Jika Kita pakai spiritus yang kurang bagus
mutunya, alat masak yang digunakan seperti panci bisa hitamwarnanya.
selamat mencoba…

Satwa liar yang harus kamu ketahui

|

Cheetah – Predator dan Pelari Cepat

Deskripsi
Cheetah memiliki dada yang mendalam dan pinggang yang sempit. Bulu pendek ang kasar, dari cheetah adalah cokelat dengan bintik-bintik hitam bulat berukuran 2-3 cm, itu memberi beberapa kamuflase saat berburu.
cheetah
cheetah
Tidak ada bercak putih di bawah, tetapi ekor memiliki bintik-bintik, yang bergabung empat/enam membentuk untuk lingkaran hitam di bagian akhir. Ekor biasanya berakhir dengan lebat berjambul putih. Cheetah memiliki kepala kecil dengan mata tinggi. ” Tanda air mata hitam” dari sudut matanya menuruni sisi hidung ke muaranya untuk menjaga sinar matahari keluar dari mata dan untuk membantu dalam berburu dan melihat jarak jauh. Walaupun dapat mencapai kecepatan tinggi, tubuhnya tidak tahan lama lari jarak jauh. Cheetah adalah pelari cepat.
Cheetah dewasa beratnya 40-65 kg. Panjang tubuh totalnya adalah 115-135 cm, sementara ekor dapat mencapai panjang 84 cm. Jantan  cenderung sedikit lebih besar dibandingkan. Dibandingkan dengan ukuran macan tutul, cheetah umumnya bertubuh pendek, tapi ekor lebih panjang dan lebih tinggi (rata-rata sekitar 90 cm) dan sehingga tampak lebih ramping.
Sosialisasi Cheetah
Cheetah Face
Cheetah Face
Cheetah di alam bebas dapat dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok keluarga atau sebuah koalisi. Kelompok keluarga / betina dan jantan.
Cheetah Betina - Betina muda biasanya menempati kisaran yang sama seperti ibu mereka meskipun semua betina soliter. Sarang mencakup 833 kilometer persegi (322 mil persegi).
Cheetah Jantan – Jarang cheetah jantan hidup sendirian. Umumnya 2 atau 3 cheetah jantan membentuk kelompok. Kelompok kecil ini akan hidup dan berburu bersama-sama untuk hidup dan biasanya klaim daerah yang luas yang mungkin tumpang tindih beberapa wilayah dengan betina. Ukuran wilayah rata-rata jantan adalah 37,4 kilometer persegi (14,4 mil persegi). Jantan muda mencari area pada jarak yang sangat jauh dari induk mereka, kadang-kadang sejauh 482 kilometer (300 mil).
Makanan Cheetah
Cheetah adalah karnivora dan makan berbagai hewan kecil. Sementara sebagian besar kucing berburu di pagi dan sore hari. Sejak itu tergantung pada pandangan daripada bau, itu suka untuk memindai pedesaan dari dahan pohon atau bagian atas gundukan rayap. Mengejar kucing besar lainnya
Cheetah mengejar mangsa
Cheetah mengejar mangsa
hanya beberapa ratus meter: cheetah mengejar 3,4 mil (5.500 meter) pada kecepatan rata-rata 45 mil per jam (72 km/jam). Mengintai adalah sama pentingnya dengan cepat sprint: biasanya itu akan menyelinap dalam waktu 50 meter (46 meter) dari calon korban sebelum akhir percepatan. Kendali sprint terakhir sekitar 20 detik dan hampir tidak pernah melebihi 1 menit penuh. Jika berhasil menangkap binatang akan mati lemas dengan menjepit tenggorokan, kadang-kadang memegang dan menjepit selama 5 menit. Binatang kecil seperti kelinci dibunuh oleh gigitan sederhana melalui tengkorak. Tapi apa pun makanan – besar atau kecil – cheetah makan cepat karena jika terlalu lama akan sering kehilangan karena predator lain. Cheetah memiliki kebiasaan makan yang bersih luar biasa: mereka tidak kembali untuk membunuh, mereka juga tidak makan bangkai; mereka meninggalkan kulit, tulang dan isi perut mangsa mereka. Pada 6 minggu cheetah muda cukup kuat untuk mengikuti berburu dan ketika mereka berusia sekitar 6 bulan induk akan menangkap mangsa hidup bagi mereka untuk latihan membunuh.
Klasifikasi Cheetah
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Carnivora
Family: Felidae
Subfamily: Felinae
Genus: Acinonyx
Species: A. jubatus

Raja Cheetah
Raja Cheetah
Beberapa cheetah juga memiliki bulu jarang.Pola mutasi: cheetah dengan bintik lebih besar, bintik-bintik digabungkan dikenal sebagai ‘raja cheetah’. Itu pernah dianggap subspesies yang terpisah, tetapi hanyalah mutasi cheetah Afrika. ‘Raja cheetah’ hanya terlihat di alam bebas beberapa kali, tetapi telah dibesarkan di penangkaran.
Cakar cheetah memiliki semi-retractable claws (dikenal hanya dalam tiga spesies kucing lain:  Fishing Cat, Flat-headed Cat dan Iriomote Cat) memberikan cengkeraman ekstra dalam pengejaran berkecepatan tinggi. Struktur cakar ligamen cheetah adalah sama dengan kucing lain, tetapi hanya tidak memiliki selubung kulit dan bulu ada dalam varietas lain, dan karena itu cakar selalu terlihat.
Adaptasi yang memungkinkan cheetah untuk berlari secepat itu tidak termasuk lubang hidung besar yang memungkinkan untuk meningkatkan asupan oksigen, dan pembesaran jantung dan paru-paru yang bekerja sama untuk mengedarkan oksigen secara efisien. Selama pengejaran yang khas dengan laju pernafasan meningkat 60-150 napas per menit.  Ketika beroperasi, selain memiliki traksi yang baik karena yang semi-retractable claws(cakar yang dapat ditarik masuk), cheetah menggunakan ekornya sebagai kemudi-seperti alat kemudi untuk memungkinkan untuk membuat tikungan tajam, diperlukan untuk mengepung mangsa binatang yang sering membuat berubah seperti melarikan diri.
Tidak seperti kucing besar lainnya, cheetah bisa mendengkur seperti menghirup, tetapi tidak dapat mengaum. Sebaliknya, kucing besar dapat mengaum tapi tidak bisa mendengkur, kecuali saat menghembuskan napas. Namun, cheetah masih dianggap oleh beberapa orang sebagai varian terkecil kucing besar. Meskipun sering keliru untuk macan tutul, cheetah memang memiliki ciri khas, seperti yang disebutkan di atas “coret tanda air mata” . Kerangka tubuh cheetah juga sangat berbeda dengan macan tutul, terutama begitu dalam lebih tipis dan lebih panjang ekor dan, tidak seperti macan tutul, dengan bintik-bintik tidak diatur dalam mawar.
Cheetah adalah spesies yang rentan. Dari semua kucing besar, cheetah paling tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Itu selalu terbukti sulit untuk berkembang biak di penangkaran, meskipun beberapa kebun binatang baru-baru ini telah berhasil untuk berhasil dalam hal ini. Begitu banyak diburu untuk bulu, cheetah sekarang menderita lebih dari kehilangan habitat dan mangsa baik.
Cheetah sebelumnya dianggap sangat primitif di antara kucing dan telah berevolusi sekitar 18 juta tahun yang lalu. Penelitian baru, bagaimanapun, menunjukkan bahwa nenek moyang terakhir dari semua yang ada 40 jenis felines hidup lebih baru dari itu-sekitar 11 juta tahun yang lalu. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa cheetah, sementara yang diperoleh morfologi, bukanlah berasal dari garis keturunan khususnya kuno, setelah terpisah dari sanak saudara terdekat (Puma concolor, para tante girang, dan Puma yaguarondi, yang jaguarundi) sekitar lima juta tahun yang lalu. Felids ini tidak banyak berubah sejak mereka pertama kali muncul dalam catatan fosil.

Habitat Cheetah

Ada beberapa populasi geografis terisolasi cheetah, yang semuanya ditemukan di Afrika atau Asia Barat Daya. Populasi kecil (diperkirakan sekitar lima puluh) bertahan hidup di Provinsi Khorasan Iran, di mana konservasionis mengambil langkah-langkah untuk melindungi mereka.  Hal ini dimungkinkan, meskipun ragu, bahwa beberapa cheetah tetap di India
Cheetah berkembang biak di daerah dengan tanah luas di mana mangsa yang berlimpah. Cheetah suka tinggal di biotope terbuka, seperti semi-gurun, padang rumput, dan tebal kuas, meskipun dapat ditemukan di berbagai habitat. Di Namibia, misalnya, tinggal di padang rumput, savana, daerah padat vegetasi, dan daerah pegunungan.
Di sebagian besar bekas kisaran, cheetah itu dijinakkan oleh kaum bangsawan dan digunakan untuk berburu antelop dalam banyak cara yang sama seperti yang masih dilakukan dengan anggota kelompok anjing greyhound .
Reproduksi Cheetah
Bayi Cheetah
Bayi Cheetah
Betina mencapai kematangan dalam dua puluh empat bulan, dan jantan sekitar dua belas bulan (meskipun mereka tidak biasanya berpasangan sampai setidaknya tiga tahun), dan perkawin terjadi sepanjang tahun. Sebuah studi tentang cheetah di Serengeti menunjukkan bahwa betina secara seksual promiscuous (tidak membedakan) dan sering mempunyai anak singa oleh banyak jantan yang berbeda.
Betina melahirkan sampai sembilan anaknya setelah periode kehamilan. Cubs (bayi cheetah) beratnya 150-300 g pada saat lahir. Tidak seperti kucing lain, cheetah lahir dengan bintik-bintik khas. Cubs juga lahir dengan mendasari berbulu halus bulu di leher mereka, yang disebut mantel, meluas sampai ke punggung tengah. Ini memberi mereka surai atau penampilan tipe-mohawk; bulu ini adalah gudang sebagai cheetah tumbuh lebih tua. Cubs meninggalkan ibu mereka di antara tiga belas sampai dua puluh bulan setelah kelahiran. Hidup cheetah sampai dua belas tahun di alam liar, tetapi sampai dua puluh tahun di penangkaran.

Merak

Rainbow Peacock
Rainbow Peacock
Merak adalah keluarga Pavo Cristatus dan dapat ditemukan di hutan.Populasi Merak Biru tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di India, Pakistan, Sri Lanka, Nepal dan Bhutan. Sebelumnya spesies ini ditemukan juga di Bangladesh, namun sekarang kemungkinan besar telah punah di sana.
Kata merak sebenarnya mengacu pada burung laki-laki (peafowls), sementara perempuan adalah peahens, dan  yang muda adalah peachicks
Merak termasuk dalam klasifikasi ilmiah:
  • Kerajaan : Animalia.
  • Fillum : Chordata.
  • Kelas : Aves.
  • Ordo : Galliformes.
  • Famili : Phasianidae.
  • Genus : Pavo.
  • Spesies : P. Cristatus.
Merak Putih
Merak Putih
Burung merak adalah salah satu jenis burung terbesar. Mereka menarik perhatian orang di seluruh dunia. Burung megah ini tidak bermigrasi. Merak terutama dibagi menjadi tiga kategori-yang paling umum di antara mereka adalah Merak Biru, Merak Hijau, Merak Putih.
Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Burung jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya tidak mengilap, berwarna coklat kehijauan dengan garis-garis hitam dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Burung muda seperti Merak betina.
Merak Biru
Merak Biru
Merak jantan adalah poligami spesies, mempunyai pasangan lebih dari satu. Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata berwarna biru. Burung betina biasanya menetaskan tiga sampai enam butir telur.
Mitologi Merak
Merak adalah omnivora, makan rumput dan biji-bijian serta ular dan kadal kecil juga. Di India, burung merak yang terkait dengan semua melihat matahari dan dalam mitologi Yunani ini ‘eyespots’ itu dikatakan sebagai mata ratus Argos raksasa. Ketika musim hujan dating, merak, menari dalam hujan, memikat semua dengan bulu yang elegan, membentuk tampilan yang spektakuler.
Ketika banyak orang mendengar tentang merak, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah warna yang indah dari bulu burung ini. Biru, hijau, emas, dan penampilan dari apa yang tampak seperti mata, tepat di tengah beberapa bulu, adalah kelebihan dari burung ini. Mereka juga memiliki lambang, atau mahkota, di atas kepala mereka, membuat mereka terlihat lebih anggun dari apa yang mereka sudah lakukan. Paruh burung-burung merak memiliki rata-rata panjang satu inci
Asli Asioa, Merak yang sekarang dapat ditemukan di hampir setiap benua, termasuk Asia, Afrika, Amerika Utara dan Eropa. Mereka telah dipelihara di banyak bagian dari bagian-bagian. Sebelumnya merak dibiakkan untuk makanan tetapi sekarang telah dilarang di India.
Merak Albino
Merak Albino
Seekor merak betina dapat bertelur hanya sekali setahun, atau beberapa kali setahun. Merak betina akan meletakkan telur lebih banyak, lebih sering, jadi jauhkan kebisingan dan aktivitas di sekitar sarang, jika ingin memiliki merak yang  menetaskan telur juga. Seekor merak betina akan meninggalkan sarang jika ia merasa bahwa terlalu banyak keributan yang terjadi. Juga, ingatlah bahwa sarang telur akan menjadi menarik bagi binatang seperti raccoon dan musang. Satu rakun dapat menghancurkan sarang merak betina telur dalam waktu yang sangat singkat.

..::::'Pencinta Alam':::....

..::::'Pencinta Alam':::....
 

Copyright © 2010 PENCINTA ALAM